MENGAPA ANAK SULIT MENDENGAR - Antara Regulasi Emosi dan Batasan
Penulis
Devi Delia, M.Psi., Psikolog
“Kenapa ya anak saya itu kalau dibilangin harus berkali-kali?”
“Kenapa anak saya baru mau nurut kalau sudah diteriakin atau saya bentak?”
“Kenapa anak saya selalu menentang omongan saya?”
Kalimat-kalimat di atas merupakan beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan oleh pasien yang datang untuk berkonsultasi kepada saya. Apakah artinya anak tersebut keras kepala atau nakal? Atau justru perilaku tersebut merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh anak? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memahami dulu secara sederhana mengenai perkembangan otak dan fungsinya.
Perkembangan Otak Anak dan Mengapa Mereka Belum Mampu Mengendalikan Diri Seperti Orang Dewasa
Sebagai orangtua, seringkali kita berharap agar anak kita mampu mengikuti instruksi kita, maupun untuk mengendalikan dorongan emosi atau kemarahan mereka saat sudah diberi tahu. Padahal, kemampuan-kemampuan tersebut sangat bergantung pada perkembangan otak, khususnya bagian prefrontral cortex atau korteks prefrontal, yaitu bagian depan otak yang berperan dalam proses pengambilan keputusan, merencanakan tindakan, serta untuk mengendalikan emosi dan impuls individu.
Sementara itu, bagian korteks prefrontal justru menjadi salah satu bagian otak yang berkembang paling lambat. Perkembangannya dimulai sejak masa anak-anak, lanjut ke masa remaja, dan baru mencapai kematangan pada saat individu mencapai usia 20-an tahun. Artinya, anak-anak memang belum memiliki kapasitas untuk mengendalikan dirinya layaknya orang dewasa.
Ketika seorang anak tetap berlari saat diminta untuk berhenti, mengabaikan panggilan, atau langsung menampilkan reaksi kecewa yang berlebihan, sebenarnya bukan karena anak sengaja untuk melawan, melainkan karena fungsi eksekutif otak yang dimilikinya masih berkembang. Fungsi eksekutif sendiri merupakan sekumpulan kemampuan mental yang mendukung individu untuk mengatur pikiran, emosi, dan perilakunya agar sesuai dengan tuntutan situasi.
Saat anak usia 4 tahun sedang asyik bermain mobil-mobilan, dan kita sebagai orangtua memintanya untuk merapikan mainannya dan menyudahi waktu bermainnya, namun anak tersebut masih lanjut bermain. Apa yang ada dalam pikiran Anda? “Ah…Dia tidak mau menurut untuk berhenti bermain.” Padahal bisa saja yang sebenarnya terjadi adalah anak sangat berfokus pada aktivitas bermainnya, sehingga ia membutuhkan waktu untuk dapat mengalihkan perhatiannya, serta untuk memroses instruksi yang diberikan, dan kemampuan ini juga merupakan bagian dari fungsi eksekutif yang masih berkembang.
Jadi menjawab pertanyaan di atas tadi, yaitu ketika anak sulit untuk berhenti bermain, mengabaikan panggilan, atau mengulang perilaku yang sama setelah diingatkan, sering kali hal tersebut bukan karena anak sengaja menentang permintaan orangtuanya, melainkan karena kemampuannya dalam mengontrol diri masih berkembang.
Pentingnya Memberikan Batasan
Ketika emosi memuncak, maka peran otak yang mengatur proses berpikir rasional menjadi kurang optimal. Akibatnya, anak menjadi lebih sulit untuk menerima instruksi ataupun nasihat apapun. Dalam situasi seperti ini, tentu yang baik untuk dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk terlebih dahulu menyalurkan emosi yang dirasakannya tersebut. Orangtua dapat membantu anak melakukan validasi atas emosi yang dirasakannya,
Saat si anak marah ketika ia diminta untuk menyudahi waktu bermainnya, dan ia menunjukkan kemarahannya dengan melempar mainannya secara sembarang, atau mungkin memukul pengasuh yang mengajaknya merapikan mainan, seringkali orangtua merasa bingung harus bersikap bagaimana saat dihadapkan pada situasi seperti ini.
“Apakah saya perlu mengizinkannya kembali bermain lagi untuk sebentar agar ia tidak marah?”
“Apakah saya harus menghukum anak ini karena sudah melempar-lempar mainannya?”
“Apakah saya harus marah dan memaksanya berhenti bermain?”
Seperti pembahasan sebelumnya, yang terpenting adalah kita tunjukkan kepada anak bahwa kita memahami perasaannya dengan memvalidasi emosi yang dirasakan anak, misalnya “Mama tahu kamu kecewa karena waktu bermainnya selesai. Setelah kita tenang, kita bereskan mainannya bersama, ya”. Atau “Mama tahu kamu kecewa karena waktu bermainnya selesai, tapi tidak begitu caranya. Tidak dengan memukul si mbak ya.”
Dalam kalimat pertama di atas, ada validasi yang menunjukkan bahwa kita paham kekecewaan anak, namun setelahnya kita juga menunjukkan sikap dan batasan kita bahwa ia tetap perlu merapikan mainannya setelah tenang.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk menyalurkan emosi, bukan artinya membiarkan setiap perilaku yang dilakukan saat marah. Batasan juga tetap perlu diberikan. Mengapa? Karena aturan yang jelas dan konsisten akan membantu anak merasa aman sekaligus memahami perilaku yang diharapkan. Penting untuk diingat bahwa konsistensi lebih penting daripada hukuman yang keras karena anak lebih mudah belajar melalui pola yang berulang.
Children See Children Do
Bagaimanapun juga, anak belajar dari hal yang ia lihat. Maka saat kita sebagai orangtua mampu bersikap tenang, mengakui kesalahan, dan mau memperbaiki hubungan setelah konflik, maka anak pun akan belajar ketrampilan yang sama dalam mengontrol emosi yang mereka rasakan. Membantu anak belajar mendengarkan, artinya bukan sekadar membuat mereka patuh ataupun menurut kepada kita, melainkan membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri mereka. Lewat hubungan yang hangat disertai dengan komunikasi serta batasan yang konsisten, diharapkan kesehatan mental anak pun akan terbentuk dengan lebih baik.
Anak susah diatur, keras kepala, atau harus dibentak baru menurut? Ketahui kaitan fungsi eksekutif otak anak dengan perilaku mereka, serta tips parenting yang tepat. Konsultasi psikologi anak di MyCharitas.
Kembali